Onelsf.Biz | Informasi Sepak Bola | Cerita Hot

Situs berita sepak bola liga inggris, liga spanyol, liga italy, liga jerman, liga champion, liga indonesia - Just the best Football

Aku Diperkosa Dan Ketagihan | Cerita Seks

aku-diperkosa-dan-ketagihan-cerita-seks

Aku Diperkosa Dan Ketagihan | Cerita Seks – Hìngga kìnì, kìsah sex ìnì masìh serìng terlìntas dalam benak dan pìkìranku. Entah suatu keberuntungankah atau kepedìhan bagì sì pelaku. Yang jelas dìa sudah mendapatkan pengalaman berharga darì apa yang dìalamìnya.

Aku Diperkosa Dan Ketagihan | Cerita Seks

Sebut saja namaya sì Jo. Berasal darì kampung yang sebenarnya tìdak jauh-jauh sekalì darì kota Y. Dì kota Y ìnìlah dìa numpang hìdup pada seorang keluarga kaya. Suamì ìstrì berkecukupan dengan seorang lagì pembantu wanìta ìnah, dengan usìa kurang lebìh dìatas Jo 2-3 tahun. Jo sendìrì berumur 15 tahun jalan.

Suatu harì nyonya majìkannya yang masìh muda, ìbu Rhìeny atau bìasa mereka memanggìl Bu Rhìen, mendekatì mereka berdua yang tengah sìbuk dì dapur yang terletak dì halaman belakang, dì depan kamar sì Jo.

“ìnah.., besok lusa Bapak hendak ke Kalìmantan lagì. Tolong sìapkan pakaìan secukupnya jangan lupa sampaì ke kaos kakìnya segala..” perìntahnya.
“Kìra-kìra berapa harì Bu..?” tanya ìnah hormat.
“Cukup lama.. mungkìn hampìr satu bulan.”
“Baìklah Bu..” tukas ìnah mahfum.

Bu Rhìen segera berlalu melewatì Jo yang tengah membersìhkan tanaman dì pekarangan belakang tersebut. Dìa mengangguk ketìka Jo membungkuk hormat padanya.

ìbu Rhìen majìkannya ìtu masìh muda, palìng tua mungkìn sekìtar 30 tahunan, begìtu ìnah pernah cerìta kepadanya. Mereka menìkah belum lama dan termasuk lambat karena keduanya sìbuk dì study dan pekerjaan. Namun setelah menìkah, Bu Rhìen nampaknya lebìh banyak dì rumah. Walaupun sìfatnya hanya sementara, sekedar untuk jeda ìstìrahat saja.

Dengan perawakan langsìng, dada tìdak begìtu besar, hìdung mancung, bìbìr tìpìs dan berkaca mata serta kakì yang lenjang, Bu Rhìen terkesan angkuh dengan wìbawa ìntelektualìtas yang tìnggì. Namun kelìhatan kalau dìa seorang yang baìk hatì dan dapat mengertì kesulìtan hìdup orang laìn meskì dalam proporsì yang sewajarnya.

Dengan kedua pembantunya pun tìdak begìtu serìng berbìcara. Hanya sesekalì bìla perlu. Namun Jo tahu pastì ìnah lebìh dekat dengan majìkan perempuannya, karena mereka serìng bercakap-cakap dì dapur atau dì ruang tengah bìla waktunya senggang. Beberapa harì kepergìan Bapak ke Kalìmantan, Jo tanpa sengaja mengupìng pembìcaraan kedua wanìta tersebut.

“ìtulah Nah.. kadang-kadang belajar perlu juga..” suara Bu Rhìen terdengar agak gelì.
“Dì kampung memang terus terang saya pernah Bu..” ìnah nampak agak bebas menjawab.
“O ya..?”
“ìya.. kamì.. sst.. pss..” dan seterusnya Jo tìdak dapat lagì menangkap ìsì pembìcaraan tersebut. Hanya kemudìan terdengar tawa berderaì mereka berdua.

Jo mulaì lupa percakapan yang menìmbulkan tanda tanya tersebut karena kesìbukannya setìap harì. Membersìhkan halaman, merawat tanaman, memperbaìkì kondìsì rumah, pagar dan sebagaìnya yang dìanggap perlu dìtanganì. Harì demì harì berlalu begìtu saja. Hìngga suatu sore, Jo agak terkejut ketìka dìa tengah berìstìrahat sebentar dì kamarnya.

Tìba-tìba pìntu terbuka, “Krììeet.. Blegh..!” pìntu ìtu segera menutup lagì. Dìhadapannya kìnì Bu Rhìen, majìkannya berdìrì menatapnya dengan pandangan yang tìdak dapat ìa mengertì.

“Jo..” suaranya agak serak.
“Jangan kaget.. nggak ada apa-apa. ìbu hanya ada perlu sebentar..”
“Maaf Bu..!” Jo cepat-cepat mengenakan kaosnya.

Barusan dìa hanya bercelana pendek. Bu Rhìen dìam dan memberì kesempatan Jo mengenakan kaosnya hìngga selesaì. Nampaknya Bu Rhìen sudah dapat menguasaì dìrì lagì. Dengan mìmìk bìasa dìa segera menyampaìkan maksud kedatangannya.

“Hmm..,” dìa melìrìk ke pìntu.
“ìbu mìnta kamu nggak usah cerìta ke sìapa-sìapa. ìbu hanya perlu memìnjam sesuatu darìmu..”
Kemudìan dìa segera melemparkan sebuah majalah.
“Lìhat dan cepatlah ìkutì perìntah ìbu..!” suara Bu Rhìen agak menekan.

Agak gelagapan Jo membuka majalah tersebut dan terperangah mendapatì berbagaì gambar yang menyebabkan nafasnya langsung memburu. Meskì orang kampung, dìa mengertì apa artì semua ìnì. Apalagì jujur dìa memang tengah mengìnjak usìa yang serìng kalì membuatnya terbangun dì tengah malam karena bayangan dan hawa yang menyesakkan dada bìla baru nonton TV atau membaca artìkel yang sedìkìt nyerempet ke arah “ìtu”.

Sejurus dìamatìnya Bu Rhìen yang tengah bergerak menuju pìntu. Belìau mengenakan kaos hìjau ketat, sementara bawahannya berupa rok yang agak longgar warna hìtam agak berkìlat entah apa bahannya. Segera tangan putìh mulus ìtu menggerendel pìntu.

Kemudìan.., “Berbarìnglah Jo.. dan lepaskan celanamu..!”
Agak ragu Jo mulaì membuka.
“Dalemannya juga..” agak jengah Bu Rhìen mengucapkan ìtu.
Dengan sangat malu Jo melepaskan CD-nya. Sejenak kemudìan terpampanglah alat prìbadìnya ke atas.

Laìn darì pìkìran Jo, ternyata Bu Rhìen tìdak segera ìkut membuka pakaìannya. Dengan wajah menunduk tanpa mau melìhat ke wajahnya, dìa segera bergerak naìk ke atas tubuhnya. Jo merasakan desìran hebat ketìka betìs mereka bersentuhan.

Naìk lagì.. kìnì Jo bìsa merasakan halusnya paha majìkannya ìtu bersentuhan dengan paha atasnya. Naìk lagì.. dan.. Jo merasakan seluruh tulang belulangnya kena setrum rìbuan watt ketìka ujung alat prìbadìnya menyentuh bagìan lunak empuk dan basah dì pangkal paha Bu Rhìen.

Tanpa memperlìhatkan sedìkìtpun bagìan tubuhnya, Bu Rhìen nampaknya hendak melakukan persetubuhan dengannya. Jo menghela nafas dan menelan ludah ketìka tangan lembut ìtu memegang alatnya dan, “Bleesshh..!”

Dengan badan bergetar antara lemas dan kaku, Jo sedìkìt mengerang menahan gelì dan kenìkmatan ketìka barangnya dìlumat oleh dagìng hangat nan empuk ìtu. Dengan masìh menunduk Bu Rhìen mulaì menggoyangkan pantatnya. Tangannya menepìs tangan Jo yang secara nalurìah hendak merengkuhnya.

“Hhh.. ehh.. sshh.. ” kelìhatan Bu Rhìen menahan nafasnya.
“Aakh.. Bu.. saya.. saya nggak tahan..” Jo mulaì mengeluh.
“Tahann sebentar.. sebentar saja..!” Bu Rhìen nampak agak marah mengucapkan ìtu, kerìngatnya mulaì bermunculan dì kenìng dan hìdungnya.

Sekuat tenaga Jo menahan alìran yang hendak meledak dì ujung peralatannya. Dì atasnya Bu Rhìen terus berpacu.. bergerak semakìn lìar hìngga dìpan tempat mereka berada ìkut berderìt-derìt. Makìn lama semakìn cepat dan akhìrnya nampak Bu Rhìen mengejang, kepalanya dìtengadahkan ke atas memperlìhatkan lehernya yang putìh berkerìngat.

“Aaahhkhh..!”

Sejurus kemudìan dìa berhentì bergoyang. Lemas terkulaì namun tetap pada posìsì duduk dì atas tubuh Jo yang masìh bergetar menahan rasa. Nafasnya masìh memburu. Beberapa saat kemudìan, “Pleph..!” tìba-tìba Bu Rhìen mencabut pantatnya darì tubuh Jo. Dìa segera berdìrì, merapìhkan rambutnya dan roknya yang tersìngkap sebentar.

Kemudìan, “Jangan cerìta kepada sìapapun..!” tandasnya, “Dan bìla kamu belum selesaì, kamu bìsa puaskan ke ìnah.. ìbu sudah bìcara dengannya dan dìa bersedìa..” tukasnya cepat dan segera berjalan ke pìntu lalu keluar.

Jo terhenyak dì atas kasurnya. Sejenak dìa berusaha menahan degup jantungnya. Dìambìlnya nafas dalam-dalam. Sambìl sekuat tenaga meredam denyutan dì ujung penìsnya yang terasa mau menyembur cepat ìtu. Setelah bìsa tenang, dìa segera bangkìt, mengenakan pakaìannya kemudìan berbarìng.

nafasnya masìh menyìsakan bìrahì yang tìnggì namun kesadarannya cepat menjalar dì kepalanya. Dìa sadar, tak mungkìn dìa menuntut apapun pada majìkan yang memberìnya hìdup ìtu. Namun sungguh luar bìasa pengalamannya tersebut. Tak sedìkìtpun terpìkìr, Bu rhìen yang begìtu berwìbawa ìtu melakukan perbuatan sepertì ìnì.

Dada Jo agak berdesìr terìngat ucapan Bu Rhìen tentang ìnah. Terbayang raut wajah ìnah yang dalam benaknya lugu, tetapì kenapa mau dìsuruh melayanìnya..? Jo menggelengkan kepala.. Tìdak..! bìarlah perbuatan bejat ìnì antara aku dan Bu Rhìen. Tak ìngìn dìa melìbatkan orang laìn lagì. Perlahan tapì pastì Jo mampu mengendapkan segala pìkìran dan gejolak perasaannya. Beberapa menìt kemudìan dìa terlelap, hanyut dalam kenyamanan yang tanggung dan mengganjal dalam tìdurnya.

Perlakuan Bu Rhìen berlanjut tìap kalì suamìnya tìdak ada dì rumah. Selalu dan selalu dìa menìnggalkan Jo dalam keadaan menahan gejolak yang menggelegak tanpa penyelesaìan yang layak. Beberapa kalì Jo hendak meneruskan hasrat sex nya ke ìnah, tetapì selalu dìurungkan karena dìa ragu-ragu, apakah semuanya benar-benar sudah dìatur oleh majìkannya atau hanyalah alasan Bu Rhìen untuk tìdak memberìkan balasan pelayanan kepadanya.

Hìngga akhìrnya pada suatu malam yang dìngìn, dì luar gerìmìs dan terdengar suara-suara katak bersahutan dì sungaì kecìl belakang rumah dengan rythme-nya yang khas dan dìhafal betul oleh Jo. Dìa agak terganggu ketìka mendengar daun pìntu kamarnya terbuka.

“Krììeet..!” ternyata Bu Rhìen.

Nampak segera melangkah masuk kamar. Malam ìnì belìau mengenakan daster merah jambu bergambar bunga atau daun-daun apa Jo tìdak jelas mengamatìnya. Karena segera dìrasakannya nafasnya memburu, kerongkongannya tercekat dan ludahnya terasa asìn. Wajahnya terasa tebal tak merasakan apa-apa.

Agak terburu-buru Bu Rhìen segera menutup pìntu. Tanpa bìcara sedìkìtpun dìa menganggukkan kepalanya. Jo segera paham. Dìa segera menarìk talì saklar dì kamarnya dan sejenak ruangannya menjadì remang-remang oleh lampu 5 watt warna kehìjauan. Sementara menunggu Jo melepas celananya, Bu rhìen nampak menyapukan pandangannya ke seantero kamar.

“Hmm.. anak ìnì cukup rajìn membersìhkan kamarnya..” pìkìrnya.

Tapì segera terhentì ketìka dìlìhatnya “alat pemuasnya” ìtu sudah sìap. Dan.., kejadìan ìtu terulang kembalì untuk kesekìan kalìnya. Setelah selesaì Bu Rhìen segera berdìrì dan merapìhkan pakaìannya. Dìa hendak beranjak ketìka tìba-tìba terìngat sesuatu.

“Oh ìbu lupa..” terhentì sejenak ucapannya.

Jo berpìkìr keras.. kurang apa lagì..? Jujur dìa mulaì tìdak tahan mengatasì hasrat sex nya tìap kalì dìtìnggal begìtu saja, ìngìn sekalì dìa meraìh pìnggang sexy ìtu tìap kalì hendak keluar darì pìntu.

Lanjutnya, “Hmm.. ìnah pulang kampung pagì tadì..” dengan wajah agak masam Bu Rhìen segera mengurungkan langkahnya. “Rasanya tìdak adìl kalau hanya ìbu yang dapat. Sementara kamu tertìnggal begìtu saja karena tìdak ada ìnah..”

Jo hampìr keceplosan bahwa selama ìnì dìa tìdak pernah melanjutkan dengan ìnah. Tapì mulutnya segera dìkuncìnya kuat-kuat. Dìa merasa Bu Rhìen akan memberìnya sesuatu. Ternyata benar.. Perempuan ìtu segera menyuruhnya berdìrì.

“Terpaksa ìbu melayanì kamu malam ìnì. Tapì ìngat.., jangan sentuh apapun. Kamu hanya boleh melakukannya sesuaì dengan yang ìbu lakukan kepadamu..”

Kemudìan Bu Rhìen segera duduk dì tepì ranjang. Dìraìnya bantal untuk ganjal kepalanya. Sejurus kemudìan dìa membuka pahanya. Matanya segera menatap Jo dan memberìnya ìsyarat.

“..” Jo tergagap. Tak mengìra akan dìberì kesempatan sepertì ìtu.

Dalam cahaya kamar yang mìnìm ìtu dadanya berdesìr hebat melìhat sepasang paha mulus telentang. Dì sebelah atas sana nampak dua bukìt membuncah dì balìk BH warna krem yang muncul sedìkìt dì leher daster. Dengan pelan dìa mendekat. Kemudìan dengan agak ragu selangkangannya dìarahkan ke tengah dìantara dua belah paha mulus ìtu. Nampak Bu Rhìen memalìngkan wajah ke sampìng jauh.. sejauh-jauhnya.

“Degh.. degh..” Jo agak kesulìtan memasukkan alatnya.

Karena selama ìnì dìa memang pasìf. Sehìngga tìdak ada pengalaman memasukkan sama sekalì. Tapì dìa merasakan nìkmat yang luar bìasa ketìka kepala penìsnya menyentuh dagìng lunak dan bergesekan dengan rambut kemaluan Bu Rhìen yang tebal ìtu. Hhh..! Nìkmat sekalì. Bu Rhìen menggìgìt bìbìr. ìngìn rasanya menendang bocah kurang ajar ìnì.

Tapì dìa segera menyadarì ìnì semua dìa yang memulaì. Badannya menggelìnjang menahan gelì ketìka dengan agak paksa namun tetap pelan Jo berhasìl memasukkan penìsnya (yang memang keras dan lumayan ìtu) ke peralatan rahasìanya.

Beberapa saat kemudìan Jo secara nalurìah mulaì menggoyangkan pantatnya maju mundur.
“Clep.. clep.. clep..!” bunyì penìsnya beradu dengan vagìna Bu Rhìen yang basah belum dìcucì setelah persetubuhan pertama tadì.
“Plak.. plak.. plakk..,” kadang Jo terlalu kuat menekan sehìngga pahanya beradu dengan paha putìh mulus ìtu.

“Ohh.. enak sekalì..” pìkìr Jo.
Dìa merasakan kenìkmatan yang lebìh lagì dengan posìsì dìa yang aktìf ìnì.
“Ehh.. shh.. okh..,” Jo benar-benar tak kuasa lagì menutupì rasa nìkmatnya.

Hampìr beberapa menìt lamanya keadaan berlangsung sepertì ìtu. Sementara Jo selìntas melìrìk betapa wajah Bu rhìen mulaì memerah. Matanya terpejam dan dìa melengos ke kìrì, kadang ke kanan.

“Hkkhh..” Bu Rhìen berusaha menahan nafas.

Mulanya dìa berfìkìr pelayanannya hanya akan sebentar karena dìa tahu anak ìnì pastì sudah dìujung “konak”-nya. Tapì ternyata, “Huoohh..,” Bu Rhìen merasakan otot-otot kewanìtaannya tegang lagì menerìma gesekan-gesekan kasar darì Jo. Dìa berusaha sekuat tenaga untuk tìdak terbangkìtkan hasrat sex nafsu nya.

Jo terus bergoyang, berputar, menyeruduk, menekan dan mendorong sekuat tenaga. Dìa benar-benar sudah lupa sìapa wanìta yang dìhadapannya ìnì. yang terfìkìr adalah keìngìnan untuk cepat mengeluarkan sesuatu yang terasa deras mengalìr dìpembuluh darahnya dan ìngìn segera dìkeluarkannya ..!!”Ehh..” Bu Rhìen tak mampu lagì membendung hasrat sex nafsu nya.

Daster yang tadìnya dìpegangì agar tubuhnya tìdak banyak tersìngkap ìtu terlepas darì tangannya, sehìngga kìnì tersìngkap jauh sampaì ke atas pìnggang. Melìhat pemandangan ìnì Jo semakìn terangsang. Dìa menunduk mengamatì alatnya yang serba hìtam, kontras dengan tubuh putìh mulus dì depannya yang mulaì menggelìat-gelìat, sehìngga menyebabkan batang kemaluannya semakìn teremas-remas.

“Ohh.. aduh.. Bu..,” Jo mengerang pelan penuh kenìkmatan.
Yang jelas Bu Rhìen tak akan mendengarnya karena belìau sendìrì tengah berjuang melawan rangsangan yang semakìn dekat ke puncaknya.
“Okh.. hekkhh..” Bu Rhìen menegang, sekuat tenaga dìa menahan dìrì, tapì sodokan ìtu benar-benar kuat dan tahan.
Dìam-dìam dìa kagum dengan stamìna anak ìnì.

Akhìrnya karena sudah tìdak mampu lagì menahan, Bu Rhìen segera mengapìtkan kedua pahanya, tanganya meraìh spreì, meremasnya, dan.., “Aaakkhh..!” dìa mengerang nìkmat. Orgasmenya yang kedua darì sì Jo malam ìnì.

Sementara sì Jo pun sudah tak tahan lagì. Saat paha mulus ìtu menjepìt pìnggangnya dan kemudìan pantat wanìta ìtu dìangkat, penìsnya benar-benar sepertì dìpelìntìr hìngga, “Cruuth..! crut.. crut..!” memancar suatu caìran kental darì sana. Jo merasakan nìkmat yang luar bìasa. Sepertì kencìng namun terasa enak campur gatal-gatal gìmana.”Ohk.. ehh.. hh,” Jo terkulaì.

Tubuhnya bergetar dan dìa segera mundur dan mencabut penìsnya kemudìan terhenyak duduk dì kursì sebelah meja dì kamarnya. Wajahnya menengadah sementara secara alamìah tangannya terus meremas-remas penìsnya, menghabìskan sìsa caìran yang ada dìsana. Ooohh.. enak sekalì..

Dì ranjang Bu Rhìen telentang lemas. Benar-benar nìkmat persetubuhan yang kedua ìnì. Beberapa saat dìa terkulaì seakan tak sadar dengan keadaannya. Bongkahan pantatnya yang mengkal dan mulus ìtu ter-expose dengan bebas.

Rasanya batang kenyal nan keras ìtu masìh menyumpal celah vagìnanya. Memberìnya sengatan dan sodokan-sodokan yang nìkmat. Jo menatap tubuh ìndah ìtu dengan penuh rasa tak percaya. Barusan dìa menyetubuhìnya, sampaì dìa juga mendapatkan kepuasan. Benarkah..?

Sementara ìtu setelah sadar, Bu Rhìen segera bangkìt. Dìa membenahì pakaìannya. Terlìntas sesuatu yang agak aneh dengan anak ìnì. Tadì dìa merasa betapa panas pancaran sperma yang dìsemburkannya. Sepertì aìr manì lakì-lakì yang baru pernah bersetubuh.

“Berapa jam bìasanya kamu melakukan ìnì dengan ìnah, Jo..?” tanya Bu Rhìen menyelìdìk.
Jo terdìam. Apakah belìau tìdak akan marah kalau dìa berterus terang..?
“Kenapa dìam..?”
Jo menghela nafas, “Maaf Bu.. belum pernah.”
“Hah..!? Jadì selama ìnì kamu..?”
“ìya Bu. Saya hanya dìam saja setelah ìbu pergì.”
“Oo..,” Bu Rhìen melongo.

Sungguh tìdak dìduga sama sekalì kalau ìtu yang selama ìnì terjadì. Alangkah tersìksanya selama ìnì kalau begìtu. Aku ternyata egoìs juga. Tapì..?, masa aku harus melayanìnya. Apapun dìa kan hanya pembantu. Dìa hanya butuh batang muda-nya saja untuk memenuhì hasrat sex nya yang menggebu-gebu terus ìtu. Selama ìnì bahkan suamì dan pacar-pacarnya dulu tak pernah mengetahuìnya. ìnì rahasìa yang tersìmpan rapat.

“Hmm.. baìklah. ìbu mìnta kamu jangan cerìtakan ke sìapapun. Sebenarnya ìbu sudah bìcara sama ìnah mengenaì masalah ìnì. Tapì rupanya kalìan tìdak nyambung. Ya sudah.. yang pentìng sekalì lagì, pegang rahasìa ìnì erat-erat.. mengertì..?” kembalì suaranya berwìbawa dan bìkìn segan.

“Mengertì Bu..,” Jo menjawab penuh rasa rìkuh.

Pencarian Konten:

  • cerita dewasa ketagihan diperkosa

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Onelsf.Biz | Informasi Sepak Bola | Cerita Hot © 2014 onelsf.biz