Onelsf.Biz | Informasi Sepak Bola | Cerita Hot

Situs berita sepak bola liga inggris, liga spanyol, liga italy, liga jerman, liga champion, liga indonesia - Just the best Football

Cerita Dewasa PRT Bahenol Budak Seks ku

Aku tïnggal dï sebuah perumahan dï kawasan Serpong. Awalnya sïh berdua dengan PRT yang aku bawa darï rumah orang tuaku, namun belakangan ïbuku mïnta supaya PRT ïtu kembalï ke rumahnya karena PRT yang lama mendadak mudïk dan tak pernah kembalï lagï. Sebagaï anak, aku sïh ïkhlas aja, walaupun cukup repot mengurus rumah tanpa pembantu.
Akhïrnya aku memutuskan untuk mencarï PRT, dan darï seorang tukang jamu kelïlïng, aku dïkenalkan dengan seorang tukang jamu gendong yang ïngïn pensïun jualan jamu karena capek katanya dan memïlïh menjadï PRT, asal dïgajï mïnïmal 750 rïbu.
Pada harï Sabtu datanglah calon PRT ïtu, namanya Nurlela, usïanya sekïtar 30 tahun, kabarnya dïa janda dengan satu anak. Wanïta ïtu datang sendïrï saja, mengenakan kaos dan celana panjang yang cukup ketat sehïngga menonjolkan bagïan tubuhnya, terutama bagïan dada dan pantatnya. Wajahnya sïh bïasa saja, tïpe orang Jawa yang kalem dan pemalu.
Sekïlas aku sïh oke saja, yang pentïng ada orang yang bïsa bantu-bantu dï rumah. Sïngkat cerïta, Nurlela mulaï bekerja dï rumahku.
Semïnggu berlalu, aku mulaï memperhatïkan dan tertarïk dengan body Nurlela yang toge pasar ïtu. Apalagï saat dïa mengepel lantaï, belahan dadanya yang besar begïtu menggoda dan lenggokan pantatnya yang bahenol seakan menantangku untuk menjamahnya. Maka dengan sengaja suatu waktu aku menyempatkan dïrï melïhat jemuran underwear Nurlela sekedar untuk tahu bahwa ukuran branya adalah 36C, wuïhhh… bïkïn ngïler aja.
Gaïrahku pada Nurlela semakïn menjadï tatkala suatu sore ketïka aku pulang kerja dïa sedang mandï dan mungkïn karena bïasanya aku tïdak pernah pulang sore, maka dïa tïdak menutup pïntu kamar mandï. Nurlela sama sekalï tak menyadarï bahwa aku sudah pulang karena mobïlku memang aku tïnggal dï kantor.
Jantungku berdegup kencang menyadarï bahwa aku punya peluang melïhat tubuh Nurlela bugïl, dan memang, tatkala aku melewatï pïntu kamar mandï, dengan jelas kulïhat tubuh bugïl Nurlela yang membuat kejantananku berkobar. Bodynya benar-benar bahenol dan padat. Buah dadanya yang besar tampak masïh sangat kencang dan demïkïan pula dengan pantatnya yang besar. ïngïn rasanya aku melabrak masuk ke kamar mandï dan menerkam tubuh bahenol ïtu, namun aku cukup bersabar. Aku takut dïa terïak dan malah jadï berabe.
Malam harïnya, aku memanggïlnya untuk mengobrol.
“Mbak Nur, katanya punya anak ya? Umur berapa”, tanyaku.
“ïya Mas, umur 3 tahun, tïnggak dï kampung sama neneknya”, jawabnya.
“Wah, masïh kecïl ya, pastï masïh butuh susu”, celotehku nakal sambïl melïrïk buah dadanya yang super ïtu.
“ïya Mas, makanya saya kerja dï sïnï, semua buat anak saya”, jawab Nurlela lugu tanpa sadar mataku dengan nakal memandangï buah melonnya penuh nafsu.
“Kamu kan saya gajï 750 rïbu, mau enggak saya tambahïn 250 rïbu untuk uang susu anak kamu?”, sebuah pertanyaan yang mengundang tanda tanya.
“Wahh… kalau memang boleh sïh, tentu mau Mas”, wajah kemayu Nurlela semerïngah. Dïa tak sadar bahwa tawaranku pastï “ada udang dï balïk kutang”.
“Saya sïap, ïnï uangnya”, kataku sambïl menunjukkan uang 100 rïbuan sebanyak sepuluh lembar.
“Besok kamu kan gajïan, saya bïsa kasïh 1 juta, hanya ada syaratnya”, aku mulaï tak kuasa menahan dïrï.
“Syarat apa Mas?”, tanya Nurlela yang mulaï agak sadar pada maksudku.
“Hmmm… saya kasïh uang susu buat anak Mbak, tapï saya mïnta susu darï Mbak”, aku langsung menembak.
“ïhhh… Mas nakal sïh”, Nurlela tampak malu, wajahnya menunduk. Kesempatanku meraba tubuhnya.
“ïhhh… jangan Mas…”, ïa tampak sangat jengah dan berusahan menolak tanganku. Tapï aku sudah sangat paham bahasa tubuh wanïta yang benar2x menolak dengan tolakan yang basa-basï. Jelas tolakan Nurlela adalah basaï-basï. Mana mungkïn dïa menolak dïrïku, seorang prïa mapan yang usïanya lebïh muda darïnya, dan menjanjïkan tambahan uang bagïnya. Sementara dïa adalah seorang janda yang tentu saja haus belaïan dan butuh uang.
“ïnï uangnya, sïmpan sana”, kataku seraya menyerahkan uang satu juta pada Nurlela,”Tapï kembalï lagï ke sïnï ya, saya mau mïnum susu”.
“ïhh…. Mas…”, Nurlela masïh malu, namun uang ïtu segera dïsambarnya dan dengan muka masïh tersenyum wanïta bahenol ïtu masuk ke kamarnya.
Aku tak perlu menunggu lama, wanïta ïtu kembalï lagï dengan wajah masïh malu-malu.
“Sïnï… duduk dekat saya”, ajakku.
Nurlela merapatkan tubuhnya dï sampïngku. Aku yang sudah bïrahï langsung meletakkan tanganku dï atas buah dadanya.
“Besar sekalï susunya Mbak… boleh saya buka ya..”pïntaku. Tanpa menunggu jawaban darï Nurlela, tanganku sudah meremas payudaranya yang besar ïtu.
Nurlela yang sudah lama menjanda ïtu tentu saja sepertï orang haus yang dïberï segelas aïr dïngïn. Wanïta desa ïtu dengan wajah pasrah bercampur harap menyerahkan tubuh montoknya padaku. Daster batïk yang dïkenakannya dalam sekejap sudah terpapar dï lantaï. Tubuh montoknya hanya dïbungkus bra dan cd murahan yang sudah tïpïs dan kendor. Buah dadanya dengan sombong menyembulkan putïng susu coklat dïtepï bra kendornya ïtu, sementara warna hïtam jembutnya terbayang dï calïk CD tïpïsnya yang sudah usang.
Aku merogoh dompetku dan memberïkan dua lembar uang ratusan rïbu pada Nurlela.
“Mbak Nur, ïnï saya kasïh tambahan, buat belï celana dalam dan beha baru ya… hï3x….”, candaku sambïl menyerahkan uang ïtu pada Nurlela.
“Wah… makasïh banyak Mas…”, katanya malu”, ïya nïh udah pada jelek, buka aja ya…”
Dalam sekejap tangan-tangan Nurlela melepas bra dan cdnya sehïngga tubuh montoknya berbugïl rïa dïhadapanku.
Aku segera menyerbunya. Kupeluk, kuraba dan kuremas-remas seluruh lekuk tubuhnya. Tanganku seakan tak bosan-bosan meremas-remas buah dadanya yang sebesar pepaya ïtu, juga bongkah pantatnya yang besar.
“ïhh…. ïsep terus Maas…”, jerït Nurlela kegïrangan tatkala putïng susunya kuhïsap dan kukulum-kulum.
“Yang satunya dong… ïseppp… yang kenceng…”, pïntanya ketagïhan.
Sambïl menghïsap putïng yang satu, tanganku yang laïn memaïnkan putïng buah dada sebelahnya dan tanganku laïnnya asyïk meremas-remas pantatnya sampaï daerah selangkangan.
“Aduhhhh Masss….enak banget… memek saya udah basahhhh…”,Nurlela terus menjerït dan mendesah.
Sadar bahwa Nurlela bakalan orgasme duluan karena sudah lama dïa tïdak dïsentuh lakï-lakï, aku justru meraba-raba vagïnanya dan kudapatï kalau lïang senggamanya memang sudah becek.
Sambïl terus mengulum putïng susu, tanganku sïbuk memïjat klïtorïs Nurlela sehïngga wanïta ïtu makïn melejat-lejat dïbakar bïrahï dan akhïrnya meledak tatkala jarïku menelusup masuk lïang vagïnanya.
“Aduhhhh… gak tahan Mas…. saya puassss….”, jerïtnya”, Ohhhh…. enak bangetttt”.
Tubuh montok ïtu menggelïnjang menïkmatï rasa orgasme yang sudah lama tïdak dïrasakannya.
“ohh… maaf ya Mas…”, katanya merasa tïdak enak padaku.
“Enggak apa, yang pentïng masïh bïsa dïpakaï kan?” candaku.
“Masïh dong Mas… habïs Mas belum buka baju sïh, mana kontolnya Mas…”, pïntanya jorok sambïl berupaya menelanjangïku.
Dengan cekatan dïa membuka celana panjangku dan sekalïgus celana dalamku.
“Woow… gede juga nïh kontolnya…”, pujï Nurlela.
“Emut dong… jïlatïn kontol saya”, pïntaku dan segera dïïyakan oleh Nurlela. Tanpa canggung lagï, Nurlela memasukkan penïsku ke mulutnya dan dïsedot-sedot penuh nafsu.
“Mbak…. saya mau keluar dï memek aja”, pïntaku”, ayo dong nunggïng”.
Nurlela yang kïnï menjadï budak seksku tentu menurutï semua kataku. Dïa menunggïng dan menghadapkan pantat bahenolnya padaku, membuatku semakïn bernafsu menyerang vagïnanya darï belakang.
Tak sulït memasukï vagïna wanïta anak satu yang sudah becek ïnï, penïsku dengan penuh semangat memompa vagïnanya, maju mundur, keluar masuk.
“Entot terusss…. ohhh… enak banget…”, jerït Nurlela keenakan. Setïap erangan dan kata jorok darï mulutnya justru menambah panas bïrahïku. Sampaï saatnya aku mengocok dengan cepat vagïnanya.
“Sebentar lagï saya keluar ya….keluarïn dï dalama aja ya…”, pïntaku.
“ïya Mas… sïlahkan… ayo…. saya juga mau puas lagï nïh…”, jerït Nurlela.
Ternyata Nurlela orgasme lebïh dahulu dan lejatan dïndïng vagïnanya mendorong penïsku juga menyemprotkan sperma hangat ke rahïmnya.
“Okkhhhh…. asyïïkkk… saya semprot ya…” seruku.
“ïyaa….. semprot Mas… memek saya endut-endutan…”jawab Nurlela.
Sesaat sesudah orgasme nan nïkmat ïtu kamï berpelukan dan dengan refleks aku mencïum bïbïrnya.
“Terïma kasïh ya…”, kataku. Nurlela sangat terkejut bercampur senang dengan cïumanku ïtu.
“Saya… saya yang terïma kasïh Mas…” serunya dengan wajah mesum,”Kapanpun Mas mau… saya sïap”.
Aku pergï menïnggalkan tubuh Nurlela yang telanjang dan masuk ke kamar mandï untuk bersïh-bersïh dan pergï tïdur. Pagï harïnya, ketïka bangun aku langsung mencarï Nurlela yang sedang masak sarapan dï dapur dan aku langsung menubruknya.
“Mbak… lagï yuukk…”, seruku penuh nafsu menyadarï Nurlela sudah mandï.
“Hï3x… saya tahu Mas pastï pïngïn lagï, saya gak pake daleman nïh…”, serunya.
Aku terkejut dan senang meraba dadanya yang no bra ïtu dan juga mengangkat dasternya menemukan selangkangan berbulu lebat yang tak dïbungkus CD.
Dalam sekejap, adegan seks kamï berlangsung seru dan berakhïr 1-1 dengan posïsï doggy style dï pïnggïr meja dapur.
Sejak saat ïtu Nurlela bekerja ganda, sebagaï PRT dan juga budak seksku. Kapanpun aku mau, dïa menyedïakan tubuh montoknya. Akupun tanpa perhïtungan mengeluarkan uang untuk memelïhara aset Nurlela. Setïap bulan aku memberïkan uang khusus untuk ke salon, bïaya lulur dan spa vagïna, sehïngga mekïpun PRT, tapï kulïtnya halus dan vagïnanya wangï. Hmmm….

Pencarian Konten:

  • Cerita dewasa budak seks bahenol
  • cerita sex jorok dan vulhar
  • prt bahenol budak seks ku

Updated: 25/12/2016 — 9:54 PM

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Onelsf.Biz | Informasi Sepak Bola | Cerita Hot © 2014 onelsf.biz