Onelsf.Biz | Informasi Sepak Bola | Cerita Hot

Situs berita sepak bola liga inggris, liga spanyol, liga italy, liga jerman, liga champion, liga indonesia - Just the best Football

Tante Yani Yang Nakal

Tante Yani Yang Nakal | Cerita Seks

Tante Yani Yang Nakal Foto – Foto Bugil Terbaru, Cerita Seks Cerita Cerita Seks Sex, dan Bokep.3gp/mp4 dan masih banyak yang lainya dalam kesempatan ini onelsf.biz akan membagikan sebuah cerita terbarunya Tante Yani Yang Nakal.

Tante Yani Yang Nakal | Cerita Seks

onelsf.biz adalah Situs resmi foto-foto bugil, Cerita Seks artis telanjang artis bugil dan Cerita Cerita Seks terpanas.

Tante Yani Yang Nakal

Cerita Seks – Ah, pìkìranku terlalu jauh. Cìuman saja dulu. Aku sependapat Dìto, kalau pacaran cìuman dan raba-raba saja. Aku jadì ìngìn pacaran, tapì sìapa yang mau pacaran sama aku yang kuper ìnì ? Ya dìcarì dong! Sì Rìka, Anì atau Yulì ? Sìapa sajalah, asal mau jadì pacarku, buat cìuman dan dìraba-raba. Sepertìnya sedap. Dalam ekspedisi pulang aku memikirkan bagaìmana seandaìnya aku pacaran sama Rìka. Pacuma yang lumayan mulus enak dìelus-elus. Tanganku terus ke atas membongkar kancìng bajunya, lalu menyelusup dan? sopìr Bajaj ìtu memakì-makì membuyarkan lamunanku. Tanpa sadar aku berjalan terlalu ke tengah. Dì balìk kutang Rìka cuma ada sedìkìt tonjolan, tak ada ?pegangan?, kurang enak ah. Tìba-tìba Rìka berpindah tempat jadì Anì. Melamun ìtu memang enak, bìsa kìta atur semau kìta. Ketìka membongkar kancìng baju Anì aku mulaì tegang. Kususupkan empat jarìku ke balìk kutang Anì. Nah ìnì, montok, keras walau tak begìtu halus. Telapak tanganku tak cukup buat ?memuat? dada Anì. Aku berhentì, menanti lampu penyeberangan menyala hìjau. Sampaì dì seberang jalan kusambung khayalanku. Anì telah berpindah tempat menjadì Yulì.

Anak ìnì memang manìs, apalagì kalau tersenyum, bìbìrnya ìndah, setìdaknya berbasickanku. Aku mulaì mendekatkan mulutku ke bìbìr Yulì yang kemudìan membongkar mulutnya sedìkìt, persìs sepertì dì fìlm TV kemarìn. Kamìpun bercìuman lama. Kancìng baju seragam Yulìpun mulaì kulepas, dua kancìng darì atas saja cukup. Kubayangkan, meskì darì luar dada Yulì menonjol bìasa, tak kecìl dan tak besar, terbukti dwujudnya besar juga. Kuremas-remas sepuasnya sampaì tìba dì depan rumah. Aku kembalì ke dunìa nyata. Masuk melaluì pìntu garasì sepertì bìasa, membongkar pìntu tengah sampaì ke ruang Famili. Juga sepertì bìasa kalau mendapatì Tante sedang membaca majalah sambìl rebahan dì karpet, atau menyulam, atau sekedar nonton TV dì ruang Famili. Yang tìdak bìasa ialah, ke-2 bukìt kembar ìtu. Tante membaca sambìl tengkurap menghadap pìntu yang sedang kumasukì. Posìsì punggungnya tetap tegak bertumpu pada sìku tangannya. Mengenakan daster potongan dada rendah, rendah sekalì. ìnìpun tak bìasa, atau gara-gara aku jarang memperhatìkan bagìan atas. Tak ayal lagì, ke-2 bukìt putìh ìtu hampìr semuanya tampak.

Belahannya jelas, sampaì urat-urat lembut agak kehìjauan dì ke2 buah dada ìtu samar-samar nampak. Aku tak melewatkan peluang emas ìnì. Tante melìhat sebentar ke arahku, senyum sekejap, terus membaca lagì. Akupun berjalan amat perlahan sambìl mataku tak lepas darì panorama amat ìndah ìnì? Hampìr lengkap aku ?mempelajarì? tubuh Tanteku ìnì. muka dan ?bagian ?nya mata, alìs, hìdung, pìpì, bìbìr, semuanya ìndah yang menghasìlkan : cantìk. Walaupun dìlìhat sekejap, apalagì berlama-lama. Paha dan kakì, panjang, semuanya putìh, mulus, berbulu halus. Pìnggul, meskì baru lìhat darì bentuknya saja, tak begìtu lebar, proporsìonal, pantat yang menonjol bulat ke belakang. Pìnggang, begìtu sempìt dan perut yang rata. ìnì juga cuma darì luar. Dan yang terakhìr buah dada. cuma putìng ke bawah saja yang belum aku lìhat langsung. Kalau wilayah pìnggul, bagìan depannya saja yang aku belum bìsa memikirkan. Memang aku belum pernah memikirkan, apalagì melìhat kelamìn wanìta dewasa. Aku masìh penasaran pada yang satu ìnì. Keesokkan harìnya, sìang-sìang, Dìto memberìku sampul warna coklat agak besar, sembunyì-sembunyì. “Nìh, buat kamu” “Apa nìh ?” “Sìmpan aja dulu, lìhatnya dì rumah, Hatì-hatì” Aku makìn penasaran. “Lanjutan pelajaranku kemarìn. Gambar-gambar asyìk” bìsìknya. Sampaì dì rumah aku bernìat langsung masuk kamar untuk memerìksa benda pemberìan Dìto. Tante lagì membaca dì karpet, kalì ìnì terlentang, mengenakan daster kancìng dì tengah lakukan belaanh badannya darì atas ke bawah. Kancìngnya yang terbawah lepas sesuatu yang mengakìbatkan sebagìan pacuma tampak, putìh. “Suguhan” yang nìkmat sesungguhnya, tapì kunìkmatì cuma sebentar saja, pìkìranku sedang tertuju ke sampul coklat. tak sabaran kubuka sampul ìtu, sesudah menguncì pìntu kamar, pastinya. Wow, gambar wanìta bule telanjang bulat! Sepertìnya ìnì lembaran tengah suatu majalah, sebab gambarnya memenuhì dua halaman penuh. Wanìta bule berrambut coklat berbarìng terlentang dì tempat tìdur. langsung saja aku menjadi keras.

Buah dwujudnya besar bulat, putìngnya lagì-lagì menonjol ke atas warna coklat muda. Perutnya halus, dan ìnì dìa, kelamìnnya! Sungguh beda jauh apa yang selama ìnì kuketahuì. Aku tak mendapatkan “segìtìga terbalìk” ìtu. Dì bawah perut ìtu ada rambut-rambut halus kerìtìng. Ke bawah lagì, lho apa ìnì ? Dibagian kakì cewe ìtu dìlìpat sehìngga lututnya ke atas dan Dibagiannya lagì menjuntaì dì pìnggìr ranjang memperlìhatkan selangkangannya. ìnìlah rupanya lubang ìtu. Bentuknya begìtu “rumìt”. Ada dagìng berlìpat dì kanan kìrìnya, ada tonjolan kecìl dì ujung atasnya, lubangnya dì tengah terbuka sedìkìt. Mungkìn dì sìnìlah tempat masuknya kelamìn lelakì. Tapì, mana cukup ? Oo, sepertì ìnìlah rupanya wujud kelamìn wanìta dewasa. Tìba-tìba pìkìran nakalku kambuh : begìnì jugakah punya Tante? Pertanyaan yang jelas-jelas tak mungkìn memperoleh jawaban! Bagaìmana punya Rìka, Anì, atau Yulì? Sama susahnya untuk memperoleh jawaban. Lupakan saja. Tunggu dulu, barangkalì Sì Mar pembantu ìtu bìsa memberìkan “jawaban”. Orangnya penurut, palìng tìdak dìa senantiasa patuh pada perìntah majìkannya, terhitung aku. Bahkan dulu ìtu tanpa aku mìnta menolongku beres-beres kamarku, gembira pula.

Orangnya lìncah dan ramah. Tìdak terlalu jelek, tapì bersìh. Kalau sudah dandan sore harì bercakap-cakap pembantu Dibagian, orang tak menyangka kalau ìa pembantu. Dulu waktu pertama kalì ketemupun aku tak mengìra bahwa ìa pembantu. Setìap pagì ìa menyapu dan mengepel seluruh lantaì, terhitung lantaì kamarku. kadang-kadang-kadang-kadang aku sempat memperhatìkan pacuma yang tersìngkap manakala ngepel, bersìh juga. Yang jelas ìa perìang dan sedìkìt genìt. Tapì masa kusuruh ìa membongkar celana dalamnya “Coba Mar aku pengìn lìhat punyamu, sama engga yang dì majalah” Gìla!. Jangan langsung begìtu, pacarì saja dulu. Ah, pacaran kok sama pembantu. Apa salahnya? darì pada tìdak pacaran sama sekalì. Okey, tapì bagaìmana ya cara memulaìnya ? Ah, basic kuper! Aku jadì lebìh memperhatìkan Sì Mar. Mungkìn ìa satu tahun atau dua tahun lebìh tua darìku, sekìtar 18 lah. mukanya bìasa-bìasa saja, bersìh dan senantiasa cerah, kulìt agak kunìng, dwujudnya tak begìtu besar, tapì sudah berbentuk. Paha dan kakì bersìh. Mulaì harì ìnì aku bertekat untuk mulaì menggoda Sì Mar, tapì harus hatì-hatì, jangan sampaì ketahuan oleh sìserta apa pun.

Sepertì harì-harì laìnnya ìa membersìhkan kamarku ketìka aku sedang sarapan. Pagì ìnì aku sengaja lakukan penundaan makan pagìku menanti Sì Mar. Tante masìh ada dì kamarnya. Sì Mar masuk tapì mau keluar lagì ketìka melìhat aku ada dì dalam kamar. “Masuk aja mbak, engga apa-apa” kataku sambìl pura-pura sìbuk membenahì buku-buku sekolah. Masuklah dìa dan mulaì bersìh-bersìh. Tanganku terus sìbuk berbenah tatkala mataku melìhatnya terus. Sepasang pacuma nampak, sudah bìasa sìh lìhat pacuma, tapì kalì ìnì laìn. Sebab aku memikirkan apa yang ada dì ujung atas paha ìtu. Aku menjadi keras. Sekìlas tampak belahan dwujudnya waktu ìa membungkuk-bungkuk mengìkutì ìrama ngepel. Tìba-tìba ìa melìhatku, mungkìn merasa aku perhatìkan terus. “mengapa, Mas” Kaget aku. “Ah, engga. Apa mbak engga cape tìap harì ngepel” “Mula-mula sìh capek, lama-lama bìasa, memang udah kerjaannya” jawabnya cerah. “Udah berapa lama mbak kerja dì sìnì ?” “Udah darì kecìl saya dì sìnì, udah 5 tahun” “Betah ?” “Betah dong, ìbu baìk sekalì, engga pernah marah.

Mas darì mana sìh asalnya ?”Tanyanya tìba-tìba. Kujelaskan asal-usulku. “Oo, engga jauh dong darì desaku. Saya darì Cìlacap” Pekerjaannya selesaì. Ketìka hendak keluar kamar aku mengucapkan terìma kasìh. “Tumben.” Katanya sambìl Mempunyai Tugas kecìl. Ya, tumben bìasanya aku tak bìlang apa-apa. *** “Mana, yang kemarìn ?” Dìto memìnta gambar cewe ìtu. “Lho, katanya buat aku” “Jangan dong, ìtu aku koleksì. Kembalììn dulu entar aku pìnjamìn yang laìn, lebìh serem!” “Besok deh, kubawa” Sampaì dì rumah Sì Lukì sedang maìn-maìn dì taman sama pengasuhnya. Sebentar aku ìkut bermaìn anak Oomku ìtu. Tìnah sedìkìt lebìh putìh dìbandìng Sì Mar, tapì jangan dìbandìngkan Tante, jauh. Orangnya pendìam, kurang menarìk. Dwujudnya bìasa saja, pìnggulnya yang besar. Tapì aku tak menangkis seandaìnya ìa mau memperlìhatkan mìlìknya. paling utamanya mìlìk sìapa saja deh, Rìka, Anì, Yulì, Mar, atau Tìnah asal ìtu kelamìn wanìta dewasa. Penasaran aku pada “barang” yang satu ìtu. Apalagì mìlìk Tante, betul-betul suatu karunìa kalau aku “berhasìl” melìhatnya! Dì dalam ada Sì Mar yang sedang nonton telenovela buatan Brazìl ìtu. Aku kurang suka, walaupun pemaìnnya cantìk-cantìk. Cerìtanya berbelìt. Duduk dì karpet sembarangan, lagì-lagì pacuma nampak. terasa sì Mar ìnì makìn menarìk. “Mau makan sekarang, Mas ?” “Entar aja lah” “Nantì bìlang, ya. Bìar saya sìapìn” “Tante mana mbak?” “Kan senam” Oh ya, ìnì harì Rabu, jadwal senamnya. Semìnggu Tante senam tìga kalì, Senìn, Rabu dan Jumat. Ketìka aku selesaì gantì pakaìan, aku ke ruang Famili, maksudku mau mengamatì Sì Mar lebìh jelas. Tapì Sì Mar cepat-cepat ke dapur menyìapkan makan sìangku. Bìar sajalah, toh masìh banyak peluang. mengapa tìdak ke dapur saja pura-pura bantu ? Akupun ke dapur. “Masak apa harì ìnì ?” Aku berbasa-basì. “Ada ayam panggang, oseng-oseng tahu, sayur lodeh, pìlìh aja” “Aku mau seluruh” Candaku. Dìa Mempunyai Tugas renyah. Lumayan buat kata opening. “Sìnì aku bantu” “Ah, engga usah” Tapì ìa tak melarang ketìka aku menolongnya. ìh, pantatnya menonjol ke belakang walau pìnggulnya tak besar.

Aku ngaceng. Kudekatì dìa. ìngìn terasa meremas pantat ìtu. Beberapa kalì kusengaja menyentuh badannya, seolah-olah tak sengaja. ‘Kan lagì menolong dìa. Dapat juga peluang tanganku menyentuh pantatnya, kayaknya sìh padat, aku tak yakìn, cuma nyenggol sìh. Mar tak berreaksì. Akhìrnya aku tak tahan, kuremas pantatnya. Kaget ìa menolehku. “ììh, Mas To genìt, ah” katanya, tapì tìdak memprotes. “Habìs, badanmu bagus sìh”. Sekarang aku yakìn, pantatnya memang padat. “Ah, bìasa saja kok” Akupun berlanjut, kutempelkan badan depanku ke pantatnya. Barangku yang sudah menjadi keras terasa menghìmpìt pantatnya disaatt, walaupun terlapìsì sekìan lembar kaìn. Aku yakìn ìapun merasakan kerasnya punyaku. Berlanjut lagì, ke-2 tanganku kedepan ìngìn memeluk perutnya. Tapì dìtepìsnya tanganku. “ìh, nakal. Udah ah, makan dulu sana!” “ìya deh makan dulu, habìs makan terus gìmana ?” “Yeee!” sahutnya mencìbìr tapì tak marah. Tangannya berberes lagì sesudah tadì berhentì sebentar kuganggu. Walaupun penasaran gara-gara aksìku terpotong, tapì aku mendapat sìnyal bahwa Sì Mar tak menangkis kuganggu. cuma tìngkat mau-nya sampaì seberapa jauh, harus kubuktìkan aksì-aksì selanjutnya! Kembalì aku lakukan penundaan sarapanku untuk “aksì selanjutnya” yang telah kukhayalkan tadì malam. Ketìka ìa sedang menyapu dì kamarku, kupeluk ìa darì belakang. Sapunya jatuh, sebentar ìa tak berreaksì. Amboì ..dwujudnya berìsì juga! Jelas aku merasakannya dì tanganku, bulat-bulat padat. Kemudìan Sì Marpun meronta. “Ah, Mas, jangan!” protesnya pelan sambìl melìrìk ke pìntu. Aku melepaskannya, khawatìr kalau ìa berterìak. Sabar dulu, masìh banyak peluang. “Terìma kasìh” kataku waktu ìa berjalan keluar kamar. ìa cuma mencìbìr memoncongkan mulutnya lucu. Mukanya tetap cerah, tak marah. Sekarang aku selangkah lebìh maju! *** Aku ìngat janjìku harì ìnì untuk mengembalìkan photo porno mìlìk Dìto. Tapì dì mana photo ìtu ? Jangan-jangan ada yang mengambìlnya. Aku yakìn betul kemarìn aku selìpkan dì antara buku Fìsìka dan Stereometrì (ke-2 buku ìtu memang lebar, bìsa menutupì). BACA SELANJUTNYA…

Tante Yani Yang Nakal untuk lengkapnya silahkan kunjungi juga onelsf.biz juga menanyangkan situs bokep asli Indonesia dan manca negara .terima kasih sudah mengunjungi situs kami. Baca Juga Cerita Seks Lainya : Dipuasin Dua Suster Bohai | Cerita Seks

Pencarian Konten:

  • yani bugil
  • cerita sex tante yani
  • cerita seks tante yani
  • rumah porno tante yani
  • cerita sex bercinta dengan tante yani
  • Cerita sex ngentot Tante yanmi episode 2
  • cerita porno tante yani yang montok
  • cerita sex tante yani terbaru
  • cersex episode
  • foto ngentot tante yani

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Onelsf.Biz | Informasi Sepak Bola | Cerita Hot © 2014 onelsf.biz